Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Desktop

Chat

Bookmarks

User

Mail

Videos

Contact

Mobile

Archive

Racing

Cute

Travel

Kota

Portfolio

Feature

Cabang 1 PC PMII Pekalongan

PMII Cabang Pekalongan Gelar Konferensi Cabang (Konfercab)
Pekalongan– Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PC PMII) Pekalongan menggelar Konferensi Cabang (Konfercab) Ke-24 di Gedung Aswaja Pekalongan, Jum’at (12/10).
Konfercab merupakan tingkatan musyawaroh tertinggi tingkat cabang yang diadakan selama satu periode kepengurusan yaitu selama satu tahun sekali. Konfercab dihadiri oleh Ikatan Alumni PMII (IKA PMII), serta perwakilan dari seluruh PMII Cabang Pekalongan baik dari Komisariat maupun Rayon. Acara dilaksanakan pada tanggal 12-13 Oktober 2018 yang dibuka oleh Ketua Ikatan Alumni PMII (IKA PMII) H. Yasir Ahmad dan dilanjutkan dengan pelantikan PMII Universitas Islam Slamet Sri (UNISS) Batang. Sebelum memasuki musyawaroh sidang, PC PMII Pekalongan menggelar dialog publik dengan tema “Meneguhkan Orientasi Ber PMII Dan Membumikan Aswaja Di Kampus” dengan narasumber H. Mutarrom dan Miqdam Yusria Ahmad S.HI.
“Tantangan PMII hari ini kedepan semakin berat. Dunia semakin datar (Word is Flat, Thomas L. Friedman). Banyaknya persaingan antar manusia menuntut menghilangkan kebiasaan lama yang tidak relevan. Usaha untuk mempertahankan nilai-nilai Aswaja didalam kampus harus tetap dipertahankan. Melalui orientasi bersikap teguh dalam ber PMII diharapkan mampu menjadi upaya mensyiarkan Aswaja dilingkungan kampus” ujar Miqdam Yusria Ahmad, sebagai narasumber.
Acara dilanjutkan dengan dilaksanakannya Sidang Pleno Satu yang dipimpin oleh Sahabat Khadiq Akrom Hasani sebagai ketua sidang, Sahabat Khoirul sebagai wakil ketua sidang, dan Sahabat Wahid Aminudin sebagai sekretaris sidang. Sidang pleno satu tersebut membahas mengenai peraturan tartib. Acara dilanjutkan dengan sidang pleno dua yang membahas mengenai lpj dan sidang pleno tiga yang membahas mengenai komisi dipimpin oleh Sahabat Musa Musodek sebagai ketua sidang, Sahabat Medi sebagai sekretaris sidang, dan Sahabat Eko sebagai sekretaris sidang.
Acara ditutup dengan dilaksanakannya sidang pemilihan ketua umum PC PMII Pekalongan yang dipimpin oleh Sahabat Habeb sebagai ketua sidang, Sahabat Khoeruddin sebagai sekretaris sidang, dan Sahabat Hasan Fasani sebagai sekretaris sidang. Sidang pemilihan ketua umum PC PMII Pekalongan mencapai kesepakatan dilaksanakan melalui lobying dan musyawaroh tertutup yang dilaksanakan oleh perwakilan dari empat Komisariat yaitu Komisariat Ki Ageng Ganjur IAIN Pekalongan, Komisariat Ki Ageng Sedayu, Komisariat Darussalam UNIKAL, Komisariat STIE Ash-Sholeh Pemalang, dan lima Rayon yaitu Rayon Tarbiyah, Rayon Syari’ah, dan Rayon Bahurekso IAIN Pekalongan, serta Rayon Soekarno dan Rayon Jaka Tingkir UNIKAL. Sidang Pemilihan Ketua Umum PC PMII Pekalongan melalui lobbying dan musyawaroh tertutup menetapkan Sahabat Zidni Ilman Nafi’a sebagai Ketua Mandataris Pengurus Cabang PMII Pekalongan periode 2018/2019.
“Konfercab bukan sekedar memilih ketua baru, tetapi lebih dari itu. Konfercab harus dijadikan sebuah refleksi semua kader, bersama-sama diskusi tentang nilai, rekomendasi untuk dijadikan pijakan kepengurusan tahun depan. Dan semoga ketua terpilih siap melaksanakan amanah dengan kesungguhan, komitmen, dan semangat melayani” ujar Labib Maimun, Ketua PC PMII periode 2017/2018.

AKU PULANG

Tri Anagh Firli
Dering telfon diruang utama itu menggelegar, menggetarkan gendang telinga Wanita paruhbaya yang masih asik menguleni adonan didapur. Ia segera merapatkan telinganya pada gagang telfon, masih dengan terkaan suara siapa yang berada disebrang sana.
“Wa’alaikumsalam nduk.” Suara rentanya merdu sekali terdengar. Ada rasa bahagia disana. Suara disebrang telefon itu, suara yang telah lama ia nantikan.
“Bu, aku pulang sore nanti. Aku rindu 
Wanita paruhbaya ini tersenyum penuh makna. Sebuah mutiara bening tak bisa ia sembunyikan lagi, itu luapan bahagianya. tak selang lama, termin pembicaraan siang itu ditutup. Masih dengan ulasan senyum yang tak ku2njung hilang dari wajah keriputnya, ia kembali meneruskan adonan yang masih setengah jadi.
Ϧ

Kumandang adzan dhuhur menggetarkan siang, menggelegar ke seluruh penjuru. Mengisi ruang-ruang hampa diudara, menggetarkan gendang telinga, menggerakkan hati atas panggilan-Nya. Wahai seluruh umat, mendekatlah. Sang empunya dunia sudah memanggil, tak butuhkah engkau atas pertolongan dan ketengangan yang Dia tawarkan? Raihlah Sulukmu, wahai seluruh umat.
Nakia memantapkan kakinya menuju masjid yang tak jauh dari tempat duduk. Masih dengan seulas senyum yang tak hilang sejak tadi. angin menyapu wajahnya yang berbinar, mengibarkan kain abu-abu yang menyelimuti kepalanya. Perempuan itu segera memasuki majid dan membasuh wajah dengan air suci. Tunailah kewajibannya pada Sang Empunya dunia.
Setelah empat rokaat ia tunaikan, perempuan berkacamata itu menepi, duduk disudut masjid. Ia kembali melafalkan Kalam-Kalam Allah dengan merdu.
Ϧ
“Ibu tak sampai hati jika kamu tak bisa mengaji seperti ibu, ikutlah dengan Pakdhemu. Jangan khawatirkan ibu, ibu akan baik disini. Yang penting, disana kamu harus pandai, kamu harus membuat ibu bangga.”
Bukan lagi setetes dua tetes, ini bak sungai yang mengalir deras diwajah kedua perempuan ini. Nakia masih erat memeluk ibunya. Sementara sang ibu memberikan pengertian lebih. Semilir angin dan nyanyian ilalang sore itu mengiringi kepergian Nakia.
“Jangan nangis, nanti air matamu kau telan. Batal sudah puasamu. Sudah, berhentilah menangis. Anak ibu ini, katanya kuat. Pakdhemu sudah menunggu nak.”
Itu baru minggu pertama Ramadhan, ketika Nakia meninggalkan ibu dan rumah mungilnya. Nakia memeluk sebuah Iqro’ yang dibelikan Ibu baru-baru kemarin. Padahal ia sudah hampir 15 tahun, tapi ia masih belum lancar mengaji. Nakia putus sekolah, ia hanya tamat SD dan membantu ibunya berjualan Gorengan keliling kampung. Mereka hanya berdua, dan setelah Ibu menitipkan Nakia Pada Pakdhe Adim, ibu sendirian. Menguleni adonan tepung tempe dan tahu gorengnya sendiri. sahur sendiri, buka puasa sendiri, dan lebaranpun Ibu sendiri. ibu tak mengizinkan Nakia pulang. Katanya, supaya Nakia fokus mengaji dan menuntut ilmu disana.
Ibu ingin yang terbaik untuk putri semata wayangnya.
“Jangan sampai Nakia seperti Ibu. Ibu tak bisa mengaji, ibu buta huruf hijaiyah. Nakia harus pandai.”
Ibu mana yang tega melihat anaknya menjadi bodoh. Tak ada, semua ibu ingin anaknya menjadi pandai, dan lebih pandai dari dirinya.
Ϧ
Perempuan paruhbaya ini memutuskan untuk tak berjualan keliling kampung. Ia masih sibuk memasak, padahal sebentar lagi sudah hampir adzan maghrib. Ia mempersiapkan meja makan dengan banyak sekali makanan. Tempe goreng dan tahu goreng kesukaan anaknya. Perkedel dan sayur asem. Jangan lupakan sambelnya, meskipun ia tau anaknya tak suka pedas, ia selalu menyediakan sambal.
Senyumnya mengulas kembali, wanita paruhbaya ini bahagia sekali, seperti tertimpa rejeki nomplok.
“Assalamualaikum,” suara merdu itu menggetarkan hati wanita paruhbaya yang masih berdiri merapihi meja makan. Setetes mutiara jatuh dari binar matanya yang indah. senyumnya mengulas lebih lebar. Ia bahagia, sangat bahagia.
“Itukah kamu, nak?”
“Ibu, ini Nakia.” Sang empunya suara berlari memeluk wanita paruhbaya yang masih berdiri mematung. Tumpah ruahlah bahagianya saat itu. lama sekali, Nakia enggan melepas pelukannya. Tangisnya pecah, luruh bersama rasa rindu yang ia pendam sejak lama.
“Hei, jangan menangis. Nanti air matamu kau telan. Batallah puasamu. Sudah-sudah, berhentilah menangis. Kau ini masih seperti Nakia yang dulu yah.”
“Ibu ini, aku masih rindu. Lagi pula mana mungkin kutelan air mataku. ibu kira aku masih Nakia kecil?” gelegar tawa memecah diantara mereka. Ditarik dua kursi yang berdampingan, senyum tak pernah hilang dari kedua wajah yang bahagia itu.
Tak selang lama, kumandang adzan maghrib menggelegar indah. mengiringi sang raja siang menuruni tahtanya digantikan sang dewi penghias malam. Ditemani semburat merah kejinggaan diufuk barat. Orang-orang sepenjuru dunia menghilangkan dahaganya kala itu, menelan teguk demi teguk air dan satu persatu pengganjal perut setelah seharian berpuasa.
Tiga rokaat mereka tunaikan bersama, diakhiri dengan lantunan Kalam-kalam Allah yang dengan merdu dilafalkan oleh Nakia. Mutiara-mutiara bening tak henti mengalir deras dari wajah wanita paruhbaya ini.
“Anakku sudah pandai mengaji.”
Nakia memeluk ibunya lagi, kali ini lebih erat. seperti pelunas hutang akan rindunya yang kedua. Itu Ramadhan pertama setelah dua Ramadhan terakhir ia habiskan sendiri. Itu ramadhan yang indah, yang telah ibunya perjuangkan, agar Nakia bisa melafalkan Kalam-Kalam Sang Empunya dunia dengan baik. 
Tak ada yang lebih bahagia menurut seorang ibu, kecuali bahagia melihat anaknya mampu lebih dekat dengan Tuhannya.
Ϧ Ϧ Ϧ
Pemalang, 10 Mei 2018

Sang Raja yang Turun Tahta


Sang Raja yang Turun Tahta

Cublak cublak suwung,
Suwunge ting gelenter,
Mambu ketundung gudhel,
Pak gempo lerak-lerek,
Sopo ngguyu ndelekakhe,
Sir-sir pong dele kopong 3x

Langkahmu terseok-seok
Meraih tangan-tangan mungil yang dulu senang denganmu
Mengejar kaki-kaki yang berlarian menggelegarkan tawa

Tik tok tik tok
Masa merenggut nyawamu
Mengikis satu persatu jemari mereka yang erat memegangmu
Mencabut satu persatuhela nafas yang menghidupkan nyawamu

Lir ilir lir ilir,
Tandure wis sumilir
Tak ijo royo-royo tak senggo temanten anyar
Cah angon cah angon penekno blimbing kui
Lunyu-lunyu penekno kanggo masuh dodot iro

Turun tahtamu,
Bak matahari tertikam mendung
Lenggak lenggok kapas putihmu berganti kelabu
Satu demi satu tangismu meresap basah
Menghujam pertiwiku, mengadu pilu

Suwe, ora jamu
Jamu godong telo
Suwe ora ketemu
Temu pisan nggawe gelo

Bila nanti matamu tak lagi sanggup
Saksikan, kedipan-kedipan mata yang hancur karna kaca
Biar  kukokohkan lagi
Jangan tumbang, sebelum akhirnya kaca-kaca itu bisa kupecahkan


Pemalang, 11 Maret 2018
Tri Anagh Firli

Ditampilkan oleh : Tri Anagh Firly, Fida Aini Sikhah,
Hikmah Nurmalita, dan Aulia Nur Syavira dalam

  • Mahakarya Sympony, 18 Maret 2018

PMII Cabang Pekalongan Gelar Musyawaroh Pimpinan Cabang (MUSPIMCAB)



PMII CABANG PEKALONGAN GELAR MUSYAWAROH PIMPINAN CABANG (MUSPIMCAB)


KajenPergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Cabang Pekalongan menggelar Musyawaroh Pimpinan Cabang Pekalongan (MUSPIMCAB) di Pendopo Kabupaten Pekalongan, Jum’at (16/03).
MUSPIMCAB merupakan tingkatan musyawaroh tertinggi setelah Konfercab yang diadakan setiap setengah periode kepengurusan cabang PMII yaitu selama setengah tahun sekali. MUSPIMCAB menghasilkan rekomendasi yang menjadi dasar untuk berjalannya raker yang telah ditetapkan pada Konfercab sebelumnya. Melalui MUSPIMCAB, hasil Konfercab dikaji kembali apakah selama setengah periode telah berjalan sesuai harapan.
Acara MUSPIMCAB dihadiri Bapak Bupati Pekalongan, serta dihadiri seluruh perwakilan PMII Cabang Pekalongan yang terdiri dari empat komisariat, yaitu Komisariat Ki Ageng Ganjur IAIN Pekalongan, Darussalam UNIKAL, STIE Ash-Sholeh Pemalang, dan STIT Ki Patih Sampun Pemalang. Serta dihadiri oleh lima rayon dari masing-masing komisariat, yaitu Rayon Syari’ah dan Ekonomi, Tarbiyah, dan Bahurekso IAIN Pekalongan, serta Rayon Soekarno, dan Jakatingkir UNIKAL Pekalongan. Selain itu, MUSPIMCAB juga dihadiri oleh alumni almapaba raya, yaitu STAIKAP, STIMIK, dan UNISS Batang.
“Pemilihan tema Refleksi Pergerakan : Konsistensi Organisasi Kawal Islam dan Pancasila Melawan Tantangan Zaman dianggap sangat sesuai dengan isu yang sedang berkembang dalam masyarakat. Selain itu dengan diadakannya MUSPIMCAB, dapat diwujudkan tujuan struktural yaitu untuk evaluasi terhadap kegiatan yang telah ada, sekaligus tujuan strukturalnya yaitu sebagai upaya menjalin silaturahim dilembaga PMII Pekalongan”, ujar Zidni Ilman Nafi’, sebagai Ketua Pelaksana.
Labib Maimun, Ketua Pengurus Cabang PMII Pekalongan menjelaskan adanya tiga hal yang harus dilaksanakan dalam PMII, yaitu refleksi, diskusi dan aksi. MUSPIMCAB merupakan salah satu wujud dari refleksi. Melalui pengangkatan tema dalam MUSPIMCAB, diharapkan pelajar PMII sebagai bagaian dari masyarakat mampu membendung pengaruh radikalisme yang merupakan musuh bersama bangsa.
            Bupati Pekalongan, Asip Qolbihi mengharapkan PMII dapat menjadi kekuatan penyeimbang agar tetap stabilnya negara. Penguatan jati diri agama dan kebangsaan harus terwujud melalui program-program yang ada didalam PMII, melalui spirit moderasi Aswaja yang ideal, yaitu mampu berada ditengah-tengah tidak condong kepada golongan kanan yang memperjuangkan negara khilafah dan golongan kiri yang tidak percaya dengan adanya Tuhan.
            MUSPIMCAB melalui sidang komisinya telah menghasilkan ketetepan berupa rekomendasi yang akan disahkan sebagai legalitas acuan kerja dalam jangka waktu satu minggu setelah diadakannya sidang tersebut. Ketetapan tersebut mencangkup lima sesi, yaitu kaderisasi PMII, gerakan dan evaluasi eksternal, keagamaan PMII Pekalongan, KOPRI PMII Pekalongan, dan bakat minat PMII Pekalongan.
            Komisi kaderisasi atau internal menghasilkan rekomendasi adanya kurikulum dalam pelaksanaan kaderisasi, seperti halnya membahas sesuatu yang diperlukan dalam almapaba. Selain itu, komisi eksternal merekomendasikan agar ada ketentuan yang mengatur bagaimana kita bersikap dan berhubungan dengan Banom NU, Pemerintah Kota Kabupaten, dan juga terhadap organisasi lain.
            Komisi keagamaan merekomendasikan penentuan terkait materi Aswaja yang akan diberikan pada jenjang PKD dan PKL. Selain itu komisi KOPRI PMII merekomendasikan adanya KOPRI bukan hanya pada tingkat cabang, tetapi juga terdapat pada tingkat rayon dan komisariat.
            Komisi bakat minat PMII Pekalongan menyepakati bahwa kepemilikan lembaga bakat minat akan tetap berada ditangan rayon, akan tetapi boleh diikuti oleh seluruh anggota PMII baik dari rayon maupun komisariat yang berbeda. Hal ini seperti halnya PKD yang diperbolehkan diikuti oleh peserta dari berbagai rayon dan komisariat.
Select Menu